Pulau Untung Jawa, Desa Wisata Nelayan Yang Penuh Sejarah

Pulau Untung Jawa, Desa Wisata Nelayan Yang Penuh Sejarah

Keindahan pulau untung jawa yang merupakan salaj satu lokasi wisata atau objek wisata di jakarta yang masuk dalam gugusan atau kawasan kabupaten kepulauan seribu ini memang banyak memiliki keindahan alam yang tidak miliki oleh wisata lainnya. Namun dibalik keindahan alam dan pantai yang ombaknya menggoda hati ini memiliki sejarah cukup panjang tentang penderitaan penduduk di pulau untung jawa.

Tindakan manusia yang terkadang semenah menah bukan mengakibatkan penderitaan alam satu tempat saja, bisa jadi alam lainnya marah. Dan itupun terjadi pada tahun 30an di pulau untung jawa, yang mana hal itu terjadi di daratan pulau untung yang mengalamai abrasi (terkikis oleh air laut), Bek Marah (nama Lurah tersebut) menganjurkan rakyatnya yang tinggal di Pulau Kherkof untuk pindah ke Pulau Amiterdam (Untung Jawa).  Sehingga penduduk kala itu akhirnya berbondong berpindah tempat dengan berlayar kepulau amiterdam.

Perjalanan dengan kapal layar sampailah di Pulau Amiterdam, dan penduduk asli pulau menerima dengan tangan terbuka. Nama asli penduduk Amiterdam tersebut antara lain Cule, Kemple, Derahman, Derahim, Selihun, Sa’adi, Saemin dll, mereka menganjurkan agar segera memilih lahan untuk langsung ‘digarap’. Akhirnya Pulau Amiterdam berganti nama menjadi “Pulau Untung Jawa” yang berarti keberuntungan bagi orang orang dari daratan Pulau Jawa saat itu.  Berakhirnya nama Amiterdam dan berakhir pula pulau kepemimpinan Bek Marah yang kemudian digantikan oleh Bek Midih dengan masa jabatan selama kurang lebih 10 tahun, lalu dilanjutkan kembali oleh Bek Markasan kemudian Bek Saenan. (Wikipedia)

Ternyata cobaan hidup mereka tidak hanya sampai disana, datanglah waktu tahun40an dimana Serangan Nyamuk besar-besaran  menyerang seluruh penduduk di Pulau Untung Jawa, karena tak tahan dengan penderitaan rakyatnya, Bek Saenan menyarankan untuk bermukim ke Pulau Ubi Besar. Namun kiranya penderitaan seakan tiada pernah ada hentinya. Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari hari yang biasa mereka dapat dari Pasar Ikan Sunda Kelapa menjadi sangat sulit. Ini diakibatkan oleh penjajahan Nippon (Jepang) saat itu.  Tahun 1945 perubahan besar terjadi diseluruh pelosok Nusantara karena Indonesia telah merdeka dari belenggu penjajah. Perubahan inipun dirasakan oleh masyarakat kepulauan seribu pada umumnya. Antara lain kata ‘Bek’ berubah menjadi Lurah begitu juga dengan kepemimpinannya.

Pemerintahan bukan lagi Hindia Belanda atau Jepang, melainkan Pemerintahan Indonesia. Berubahnya mekanisme kepemerintahan, Bek Saenan pun digantikan oleh Lurah pertama yaitu Lurah Maesan.  Hari berganti hari, bulanpun demikian, tanpa disadari Pulau Ubi Besar tak luput dari abrasi. Atas prakarsa Lurah Maesan dengan persetujuan pemerintah mereka hijrah yang kedua kalinya ke Pulau Untung Jawa. Dari sanalah sekarang anda bisa tahu dengan nama pulau yang disebut untung jawa, yang bisa kalian kunjungi dan saksikan langsung sejarahnya di kepulauan seribu

About the Author

Wisatapulaupari.com administrator

Kami adalah agensi wisata pulau pari yang menyediakan layanan tour dan travel ke pulau pari. Hubungi Phone & BBM : (021) 29619621/ (2BDB71C1) atau Mobile & WhatsApp : 08521-5090-808/ 0856-93536-999

Comments Are Closed!!!